Thursday, 7 April 2011
Mengurangi Jumlah Kendaraan Bermotor di Jalan
Mengendarai sepeda di jalanan Ibukota bagai menyerahkan nyawa kepada penjagal. Tidak ada seorang pun yang mau berbagi jalan. Baik itu pengendara mobil, pengendara motor, bahkan si petugal DLLAJR yang membantu mengatur lalu lalang kendaraan ditempat yang ramai. Saya bahkan masih menyimpan dendam untuk melempar petugas tersebut next time saya ketemu dengan kerikil atau es batu. Meningkatnya harga BBM, harusnya bisa disiasati dengan meng encourage pengendara kendaraan bermotor untuk menggunakan sepeda. Tapi jangan hanya menyuruh orang bersepeda tanpa ikut memberikan ruang. Kembalikan jalur hijau terlebih dahulu. Ini bisa mengurangi debu dijalanan. Paru-paru bisa rusak setiap pagi dan malam menghajar debu jalanan yang terbang bagai tepung gula menutupi donuts. Sayang sekali jalur hijau malah dikorbankan. Malah dijadikan bagian perluasan jalan. Parkir sepeda di gedung perkantoran, pusat perbelanjaan juga harus disiapkan. Jangan dianak tirikan. Saya sampai hari ini masih harus menitipkan sepeda saya di rumah genset. Kalau saya letakkan diluar, bisa2 sepulang kerja sepeda saya tinggal frame saja. Atau kalaupun masih utuh, dalam hitungan bulan, sepeda saya akan rusak parah karena kena hujan dan panas yang sangat extreme. Belum lagi harga sepeda (bukan sepeda saya sih) yang puluhan juta rupiah. Bahkan lebih mahal dari sepeda motor. Siapa yang berani parkir sembarangan. Kalau jalan bisa dipakai dengan sopan, ada jalur pengendara sepeda, penghijauan bagus, bisa dijamin pengendara sepeda di ibukota akan bertambah. Harga BBM tidak perlu diperdebatkan, kemacetan berkurang, polusi juga berkurang. Saya yakin banyak yang tahu dan mengerti concept ini. Tetapi karena tidak berbau keuntungan financial buat pihak2 yang mungkin terlibat, jadi dianggap tidak penting.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment